AGM Kelas X - Peristiwa Perjalanan Dakwah Nabi Tahun Hijrah Kelima (Ke-5) hingga Kesebelas (Ke-11)

Sumber gambar : republika.co.id

Perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw. tidak berhenti selama lima tahun saja. Beliau terus berupaya untuk meraih tujuan baiknya salah satunya untuk menyebarkan agama Islam. Dalam tahun hijrah kelima sampai kesebelas ini juga ditemui suka dan duka yang dialami beliau begitu pula dengan umatnya.

Pada tahun kelima hijrah, ada beberapa peristiwa yang terjadi dan dialami oleh Nabi Muhamad saw. Pertama, Rasulullah menikahkan Zainab binti Jahsy dengan Zaid Al Haritsah. Kedua, akan ada penyerangan terhadap umat Islam dari Bani Mustolik yang membantu orang Quraisy pada Perang Uhud untuk melawan umat Islam. Pada tahun yang sama pula, Allah Swt. menurunkan Surat Al-Munafiqun karena ketika hendak pulang dari  peperangan, Abdullah Bin Ubay Bin Salur membuat berita fitnah yang berakibat adanya perpecahan di antara kaum Muhajirin dan Anshar. Dia bersumpah di hadapan Rasulullah atas nama Allah Swt.  bahwa dia tidak akan pernah mengusir orang-orang  Muhajirin dari kaum Anshar.

            Kemudian pada tahun selanjutnya yaitu tahun keenam hijrah, terdapat peristiwa Perang Banu Lihyan yang dilatarbelakangi bahwa Nabi Muhammad ingin mendapatkan keadilan atas pembunuhan 10 Muslim dalam Ekspedisi Al Raji. Terjadi pula Perang 'Usfan terhadap kabilah Hudzail, Perang Bani Musthaliq, dan Perang Dzukirad. Pada tahun keenam ini terjadi pula Perjanjian Hudaibiyah yang merupakan sebuah perjanjian damai antara pihak muslimin dengan musyrikin Mekkah yang akhirnya dilanggar oleh kaum Quraisy.

            Selanjutnya, tahun ketujuh hijrah terdapat peristiwa yang baik dampaknya bagi umat Islam karena Nabi Muhammad saw. dapat berdakwah secara terang-terangan. Beliau juga menunjukkan mukjizatnya yang bernama Raddus Syams bahwa berkat doa Nabi saw, matahari yang dalam keadaan terbenam mundur kembali ke belakang sehingga Imam Ali as dapat menunaikan salat Asarnya. Nabi Muhammad saw. juga sempat menunaikan ‘Umarh al-Qadha (umrah pengganti) bersama beberapa orang muslim.

Sumber gambar : facebook.com

            Tahun kedelapan hijrah, terdapat berita gembira berupa Fathu Makkah yang merupakan peristiwa penaklukan kota Makkah pada tahun 8 Hijriah/629 oleh kaum muslimin dengan pimpinan Rasulullah saw dalam mereaksi pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kelompok Quraisy. Setelah Fathu Makkah ini, orang-orang memberi balat (kesetiaan) terhadap Nabi Muhammad saw. Namun, sayangnya pada tahun yang sama terdapat berita kesedihan yaitu meninggalnya putri sulung Nabi Muhammad saw. yang bernama Zainab.

            Perjalanan dakwah Nabi Muhammad terus berlanjut. Pada tahun kesembilan hijrah, dapat ditemui beberapa peristiwa antara lain kebijakan pemungutan zakat yang terjadi pertama kali dalam sejarah Islam. Terjadi pula peristiwa Sanah al-Wufud yang merupakan peristiwa kedatangan delagasi dari berbagai kabilah dan suku untuk menemui Nabi saw dan menunjukkan keislaman dan kepengikutan mereka, dan Nabi menyambut mereka dengan lembut, kasih sayang dan perhatian. Pada tahun yang sama, terjadi pula Perang Tabuk berupa perang umat Islam melawan tentara Romawi namun sebenarnya perang ini belum benar-benar terjadi karena ratusan ribu tentara Romawi di bawah pimpinan Kaisar Heraklius mundur sebelum berperang disebabkan gentar dengan 30 ribu pasukan Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah.

            Kemudian, pada tahun kesepuluh hingga kesebelas hijrah masih ada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi. Salah satu peristiwa yang sangat penting terjadi pada tahun kesepuluh hijrah yaitu Haji Wada atau haji perpisahan. Saat peristiwa ini berlangsung, kaum muslim mematuhi setiap gerakan, tindakan, dan gerak-gerik Nabi Muhammad saw. pada ketika itu, dan setiap perbuatan yang dilakukan olehnya menjadi contoh untuk selama-lamanya bagi muslim di seluruh dunia. Selain Haji Wada, peristiwa ini juga disebut sebagai haji balâgh (haji penyampaian dakwah Allah) dan haji Islam (haji penyerahan diri). Pada tahun kesebelas hijrah tepatnya 14 Safar, Nabi Muhammad saw. sakit dan wafat pada 28 Safar. Ia wafat karena demam tinggi. Kepergiannya ini membuat duka para sahabat bahkan penduduk. Umar bin Khattab awalnya tidak percaya pasal berita duka ini, bahkan dia nyaris mengacungkan pedang dan mengancam akan membunuh siapa pun yang menyebut Rasulullah telah wafat dan kemudian Abu Bakar datang untuk menenangkannya. Saat dijelaskan lebih lanjut, Umar sempat jatuh ke tanah karena menyadari bahwa berita itu benar-benar terjadi. Selain Umar, kesedihan dalam yang serupa juga dialami Bilal bin Rabah (muazin pertama) bahwa setiap kali mengumandangkan azan, sampai pada lafal Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, tangisnya pecah dan hatinya bergetar, ia tak sanggup menahan kesedihan. Dijelaskan pula oleh para sahabat yang lain salah satunya Abu Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi dalam Sirah Nabawiyah menuliskan, saat Rasulullah wafat adalah hari yang sangat gelap, menyedihkan, dan bencana bagi kaum muslimin serta Anas dan Abu Sa'id al-Khudri mengatakan, "Pada hari Rasulullah SAW datang ke Madinah, bersinarlah segala sesuatu. Ketika Beliau wafat, semuanya menjadi gelap."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahasa Indonesia XI - Ringkasan Materi Teks Proposal

Ringkasan Materi tentang UUD 1945 PPKn Kelas 7 Kurikulum 2013 Revisi